26 Cagar Budaya Masuk Nominasi Warisan Dunia
Sebanyak 26 cagar budaya di Indonesia, masuk dalam daftar nominasi warisan dunia UNESCO.
Dari
26 cagar budaya tersebut, tiga diantaranya adalah Candi Muara Jambi di
Jambi, Candi Trowulan di Jawa Timur, dan kawasan karst Maros Pangkep di
Sulawesi Selatan.
Demikian dituturkan oleh Direktur Pelestarian
Cagar Budaya dan Permuseuman Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan,
Surya Helmi, Selasa (12/2/2013).
Saat ini, sebanyak 13 cagar
budaya Indonesia telah ditetapkan sebagai warisan dunia, di mana enam
diantaranya termasuk dalam warisan dunia kategori tak benda, empat cagar
budaya sebagai warisan dunia kategori benda, dan tiga lainnya adalah
warisan dunia kategori alam.
Yang baru saja ditetapkan sebagai warisan dunia pada akhir tahun 2012 adalah noken, rajutan khas Papua.
sumber : http://regional.kompas.com/read/2013/02/12/08023764/26.Cagar.Budaya.Masuk.Nominasi.Warisan.Dunia
Selasa, 12 Februari 2013
Minggu, 10 Februari 2013
puisi ilham pribadi-harian analisa
APA KABAR PAGI
Apa kabar pagi
yang hadir menghancurkan mimpi
apakah mentarimu masih tersenyum
memandang brikade burung mengitari
cakrawala
seperti hendak menyampaikan berita
tentang mimpi buruknya tadi malam
apa kabar pagi
akankah esokmu terampas
oleh mendung yang membawa hujan
mengguyur duka
pada bumi yang terluka
Medan, Juni 2003
Tembang kenangan di malam itu
membuatku makin terkenang dirimu ibu
kerinduan yang terpatri dalam diriku
membuat lubang kerinduan semakin dalam
untukmu
apakah kau tenang di sana
bermain dan bercanda dengan malaikat
menyanyikan lagu pujian untuk-Nya
sementara aku menyesali diriku
yang tak sempat melepas kepergianmu ibu
hanya doa yang dapat kukirim untukmu
semoga kau tenang di sana
Medan, Juli 2004
K A U
Yang kemarin berselimut
dalam peti jenazah
ajarkan padaku
cara mati yang benar
Medan, Juni 2003
DINNER
Kau sambut aku dengan sepotong roti
dan secangkir kopi susu
sedang kemarin daging dan darahku
kau jadikan makanan penutup
Medan, Juni 2003
sumber : http://www.analisadaily.com/mobile/read/?id=11680
puisi Ilham Pribadi-Harian Analisa
Angin menyeretku pada rindu
mengiring setiap anganku yang lahir
pada jasadku yang terpaku
menatap laut yang memantulkan wajahmu
selaksa mimpi tapi nyata
pada setiap gelombang nafas
menghempaskan bahtera
terdampar pada pantai rindu
angin semakin keras menyeret anganku
ketika ku coba menelusuri pantai
mencari mutiara rindu darimu
yang kau kirim melalui bintang
Medan, Agustus 2003
Untuk para durjana
kuajak kau bernyanyi
kuajak kau menari
bersama iblis betina
berpesta ria
aku terus menghiburmu
hingga kau lelah
hingga kau berkeringat
memang aku penjilat
karena terus menghiburmu
hingga kau lelah hingga kau berkeringat
Medan, 2003
HARAPAN
Akankah ku kais tanah
tuk temukan sebutir harapan
sementara cacing-cacing kelaparan
akankah ku peras kayu
tuk temukan sebutir air
sementara akar-akar kekeringan
apakah semua harapan telah terkubur
sementara bumi telah membatu kini
Medan, oktober 2004
TAPAK LANGIT
Jalanku menapaki langit
darah kaki membasahi awan
terus mendaki setiap gumpalannya
jatuh tersungkur, namun
aku masih bisa merangkak
dimanakah-Dia?
Medan, Oktober 2003
sumber : http://www.analisadaily.com/news/read/2011/10/05/15848/berlayar_di_laut_rindu/#.URcWWaB8EiE
Puisi
Puisi
Tengku Marni Adriyah
Pesan di
Batu Nisan 3
Bah…
Dimana aku
harus sembunyikan tangis ini
Didadamu,
yang tak lagi kekar
Karena
angin, hujan, panas, debu
Telah
mengikis habis keperkasaanmu
Sabtu, 09 Februari 2013
kumpulan cerpen
BERATUS JUDUL DI KEPALAKU
Cerpen Ilham Pribadi
“Ah…, setan!”
“Sial!”
Aku
terus menggerutu. Lagi-lagi aku tidak bisa menulisnya, padahal semua seperti
sudah terbaca dalam benakku. Tapi semua hilang seketika, seperti sirnanya
cahaya matahari saat dengan sekelebat awan hitam menutupi tubuh bulatnya, dan
dengan secepat itu juga rentetan bulir air yang jatuh menghujam tanah menghapus
tarian debu-debu di jalanan.
”Yap, dapat!”
Kembali
jariku menari diatas tombol-tombol alfabet yang tidak beraturan letaknya.
Lincah seperti penari Tanggo menghentakkan
kaki mengikuti irama musik. Namun itu hanya sesaat ketika segumpal daging di
tengkorak kepalaku kembali menemukan jalan buntu, gelap dan tak ada apa-apa
disana. Aku kembali terkungkung dalam sebuah ruang berisi ribuan bahkan jutaan
kata-kata yang tak pernah ku mengerti, dan jangankan untuk mengerti, untuk
menyentuhnya pun aku tidak mampu.
”Sial, sial, sial!”
Entah
untuk yang keberapa kali aku mengalami kesialan seperti ini, bertubi-tubi. Kenapa
semua hilang begitu saja.
Sejenak
kurebahkan tubuh pada sandaran kursi yang seingatku sudah hampir empat jam aku
melakukan persetubuhan dengannya. Kureguk kopi yang tidak pernah tersentuh sejak aku mulai duduk dan membuka
laptop ku. Ya, laptop yang ku beli dari hasil tabunganku selama enam bulan aku
bekerja. Laptop yang selalu ku nantikan, seperti penantian seorang raja pada
putra mahkotanya yang akan menggantikan kedudukannya kelak jika ia mangkat,
meskipun sang Raja belum tau pasti apakah putra mahkotanya itu akan bisa
membantu bahkan menggantikan tampuk pimpinan kerajaan.
Sama
seperti aku. Laptop yang selama ini ku
harapkan ternyata tidak mampu membantu untuk menunaikan niatku menuliskan
sebuah puisi. Aku sudah berniat akan menulis puisi saat aku punya laptop.
”Kenapa harus menunggu ada laptop, ditulis aja kan
bisa.”
”Ini zaman modern To, zaman teknologi. Penyair
yang sudah terkenal sekalipun sudah atau hampir melupakan teknologi dawat yang
telah membesarkannya.” jawabku ketika Anto, teman seperjuanganku melontar
tanya.
Tapi
entah kenapa. Jangankan sebuah, sebait bahkan sekalimat pun belum mampu aku
tulis. Sempat timbul rasa menyesal telah membeli benda persegi sialan ini. Padahal
aku masih punya mesin tik butut. Sementara uang tabunganku bisa dipergunakan
untuk hal yang lebih bermanfaat. Maklumlah aku hanya karyawan rendahan.
Kembali
kukecup bibir gelas dan menumpahkan sedikit isinya kedalam rongga mulutku,
sambil aku terus berfikir dan menyusun kata agar menjadi kalimat yang indah.
Beratus judul sepertinya tidak perlu kupikirkan lagi untuk sebuah puisi. Memori
otakku sudah menyimpan judul-judul itu di laci yang terpisah dari memori-memori
yang lain. Seperti seorang konglomerat yang menyimpan harta (entah hasil
korupsi atau tidak) di berangkas yang terkunci rapat. Judul-judul yang indah.
Namun kenapa hanya judul yang ku punya, kenapa judul-judul itu tidak bisa ku
kembangkan menjadi sebuah puisi, bahkan untuk sebuah kalimat yang indah pun,
belum!
Berbagai
spekulasi bermunculan di benakku. Kenapa orang-orang bahkan anak kencur pun
bisa menulis puisi, walaupun puisi cinta yang menurut beberapa penyair sangat tidak
masuk akal namun mereka bangga bisa menulisnya dan mengungkapkannya pada sang
kekasih hati. Tapi aku, belum!
”Ah,
akan ku coba lagi”, gumamku dan mulai memperbaiki posisi duduk seperti semula.
Kembali kucoba untuk menuliskan beberapa kata, namun kembali pula aku menemukan
kebuntuan. Aku selalu berhenti dibeberapa kata. Meskipun aku pernah membaca
beberapa puisi penyair besar yang dengan hanya sebuah kata juga sudah merupakan
sebuah kalimat. Tapi mereka penyair hebat yang semua isi dalam puisinya
mengandung makna yang dalam. Itulah kata guruku sewaktu aku masih menginjakkan
kaki di bangku SMA. Sang Guru mengatakan itu setelah mendapat pertanyaan dari
teman sebangku yang mempersoalkan kenapa ada satu kata saja yang menjadi sebuah
kalimat pada puisi.
”Alah,
persetan dengan alasan guru ku”. Gumam yang lagi dan lagi keluar dari mulut
ini. Biarpun itu hanya ku anggap sebuah alasan seorang guru terhadap ketidakmampuan
dalam menjawab sebuah pertanyaan, namun itu tetap sebuah puisi yang hebat
menurutku. Sempat terlintas dalam relung benak ini untuk menuliskan sebuah kata
menjadi sebuah kalimat puisi, namun urung ku lakukan karena aku beranggapan
belum pantas seorang pemula seperti aku tuk melakukannya. Hanya orang-orang
yang sudah terkenal atau terlanjur terkenal di dunia sastra yang boleh
melakukannya. Seperti seorang pelukis yang membuat sebuah lukisan dengan
menggunakan beberapa ekor cacing. Entah apa yang tercipta dari geliat-geliat
binatang tanah itu, namun menjadi sesuatu yang sangat berharga dan mendapat
apresiasi yang sangat istimewa.(Aku pernah membaca berita tentang seorang
pelukis yang membuat sebuah lukisan dari beberapa ekor cacing,aku lupa nama
pelukisnya).
Kenapa
aku tidak bisa seperti seorang penyair yang mengandaikan rumput bisa sembahyang
dalam puisinya Sembahyang Rumputan. Puisi
yang pernah aku baca pada saat aku mengikuti lomba baca puisi tingkat kecamatan
saat peringatan Isra’ Mi’raj. Dengan
indah dia mengukir kata-kata seolah-olah rerumputan juga seperti manusia yang
melakukan sujud pada tuhan-Nya. Atau paling tidak seperti sebaris sajak Ebiet G
Ade yang menyuruh kita bertanya pada
rumput yang bergoyang,yang ia lantunkan menjadi sebuah lagu yang dikenang
sepanjang masa.
Hanya
dengan rumput, mereka mampu menguntai
ribuan huruf menjadi kata hingga menjadi mantera yang dapat menyihir para
pembacanya. Seperti seorang pesulap, dengan sedikit kata yang dia ucapkan mampu
menghipnotis penonton yang dipilihnya. Atau puisi Tragedi Kawin dan Kasih yang
berisi kata kata yang serupa berulang-ulang. Atau seperti teks proklamasi yang
dibaca Presiden Indonesia Pertama yang menjadi pemicu gelora kemerdekaan.
Padahal isinya hanya beberapa kata yang ku anggap sebagai sebuah syair karena
semua kalimat berakhiran ”a”. Atau...atau...,ah, aku tidak mau beratau-atau.
Sejenak
kembali ku nikmati serupan kopi yang masih tergeletak di atas meja, berharap
alirannya dapat mencairkan setumpuk daging yang masih beku di kepalaku. Sembari
memutar semua persendian yang agaknya sudah mulai kaku karena sudah hampir lima
jam aku duduk. Sesaat memutarkan sendi leherku, sekejap itu pula seuntai senyum
merekah diwajahku. Kurasakan itulah senyuman termanis dalam hidup bahkan
menurutku mengalahkan senyuman monalisa(yang sampai sekarang aku belum yakin
itu sebuah senyuman) yang sangat terkenal. Mataku menatap sesuatu di tumpukan
buku-buku tua peninggalan masa SMA. Berjuta-juta keindahan terbayang seperti seperti sepasang kekasih
yang telah lama tidak berjumpa dan akhirnya dipertemukan pada saat
ketidakpastian.
Mataku
tertuju pada sebuah buku yang lumayan tebal berwarna merah dan bertuliskan Kamus Lengkap Bahasa Indonesia. Ya,
sebuah kamus yang akan membantuku mencari kata-kata yang cocok untuk membuat
sebuah puisi. Kamus yang dulu pernah menciptakan sejarah dalam perolehan nilai
pelajaran bahasa indonesia saat guru SMA ku memberikan sebuah PR . Sepuluh. Nilai yang sangat
sempurna, merupakan rekor yang tak terpecahkan dan satu-satunya yang tertinggi
dalam seluruh mata pelajaran sejak aku mengecap bangku pendidikan.
Setelah
sekian lama, akhirnya kulepaskan sejenak persetubuhanku dengan tumpukan papan
berkaki empat itu. Secepat kilat kulangkahkan kaki menuju tumpukan kertas dan
menggapai mahkota berwarna merah tersebut. Perasaan senang kembali mengguyur
seluruh tubuh. Berharap inilah saatnya aku kembali menciptakan sejarah dan
rekor baru dalam hidup dengan menuliskan sebuah puisi. Dan dalam sekejap pula
aku kembali melakukan perselingkuhan dengan makhluk aneh berkaki empat itu
kembali.
Kubuka
lembar demi lembar secara perlahan dan kuresapi setiap kata dan makna yang
terkadung didalamnya. Seperti seorang pelacur yang dengan perlahan membuka
setiap kancing kemeja pejabat yang katanya melakukan tugas keluar kota, dan
dengan perlahan pula sang pelacur menghirup dan mereapi setiap jengkal keringat
yang telah bercampur bau asap cerutu.
Hampir
setengah jam aku meresapi setiap huruf yang terpajang pada baris-baris kamus
tersebut. Bahkan ada yang hampir sepuluh kali aku membacanya dan memaknainya.
Namun lagi-lagi sebuah kesialan yang aku dapatkan. Tidak ada yang bisa
kutuangkan menjadi sebuah kalimat. Aku tidak mau menyerah, tidak mungkin
bidadari merah ini tidak membantu, tapi...
”Aaaa...”
teriakanku membahana ke seluruh ruangan. Aku sangat kecewa karena yang
kuharapkan tidak mau membantuku. Bahkan seolah-olah telah bersekutu dan
menentangku. Timbul rasa benci sebenci-bencinya terhadap makhluk merah yang
pernah menawan hatiku. Aku makin muak ketika semua kata yang keluar dari
tubuhnya bukan membantu tapi malah mengejekku dan hampir menyerang dan
membunuhku. Secepat aku meraihnya, secepat itu juga aku mencampakkannya. Akupun
merebahkan kembali badanku ke papan berkaki empat dan berharap pelukannya dapat
menenangkan gundahku.
”Bodah!”
”Siapa?”
”Kau,
bodoh!”
”Siapa...siapa
yang berbicara?”
”Aku,
bodoh!”
”Kau?”
”Ya,
Aku.”
”Tidak
mungkin, mana mungkin kau yang berbicara.”
”Kenapa
tidak mungkin?”
”Karena
kau benda mati.”
”Memang
dasar bodoh. Aku memang benda mati, tapi kau telah menghidupkanku”.
”Bagaimana
bisa?”
”Karena
kau telah menjadikanku bidadari merahmu selama ini.”
”Tidak
mungkin,kau hanya sebuah kamus. Dan kamus tidak bisa bicara”.
”Selama
ini kau terlalu memujaku, hingga aku hidup dalam jiwamu. Kalau hanya untuk bicara,
aku lebih pintar darimu karena semua kata ada dalam tubuhku.”
”Tidak!”
”Kenapa
tidak, kenyataanya memang seperti itu. Kau terlalu bodoh untuk menyusun sebuah
kalimat. Kau terlalu bodoh untuk membuat secuil puisi.”
”Tidak...tidak...”
”Ya,
kau terlalu memaksakan dirimu untuk menciptakan yang sempurna, hingga semua
yang keluar dari otakmu salah. Kau tidak percaya diri. Andai kau menuliskannya
saja, dan tidak terkekang oleh stigma-stigma yang mengikat, kau sudah bisa
membuat puisi. Karena secara substantif, sebuah puisi tidak ada yang salah,
hanya tergantung kita dan orang yang membacanya menafsirkan.”
”Tidak...tidak...tidak...”
”Ya,
kau telah melupakan kesederhanaan. Bukankah seorang penyair yang terkenal juga
memulai dengan sebuah tulisan yang sederhana dan tidak berharap menjadi
sempurna. Tapi kau, terlalu berharap akan kesempurnaan.”
”Tidak...tidak...tidak...tidaaaak...”
Aku
terjaga dari mimpi yang merongrongku. Ah..., lima belas menit yang menyiksa.
Seakan ingin mendakwaku terhadap kesalahan yang aku sendiri tidak tau pasti apa
aku bersalah atau tidak. Seperti seorang yang dipaksa mengaku melakukan
kejahatan yang dia tidak pernah lakukan. Seperti yang kusaksikan di televisi
beberapa waktu lalu. Tapi tunggu...ya...ya...ya...
Bergelayut pada hati yang rapuh
Mencengkeram kuat, bergoyang pada
kenistaan
Retak, patah, jatuh ketanah, lebur
menjadi abu
Sirna tak berbekas
”Yuhui..” . Aku bersorak dipagi buta.
Akhirnya aku bisa menuliskan sebait puisi. Ya, walau hanya sebait, aku puas.
Puas sepuas-puasnya. Tapi tunggu, puisiku belum berjudul. Sebuah perkara yang
mudah kurasa. Aku punya ratusan judul di kepalaku, yang memang telah ku
letakkan di laci yang terpisah dari memori-memori yang lain. Setelah
memilah-milah untuk beberapa lama, aku tidak juga menemukan judul yang pas
untuk sebait puisiku ini. Bahkan segumpal daging di tengkorak kepalaku kembali
menemukan jalan buntu, gelap dan tak ada apa-apa disana.
”Sial,sial,Setan!”
Banda
Aceh, Januari 2011
kumpulan cerpen
Cerpen karya Ilham Pribadi
MURAI
Belum genap satu minggu Amat Selamat
mendiami rumah kontrakan barunya yang berukuran 4×5 meter persegi itu, ia sudah
dimusuhi tetangganya. Warga geram padanya. Ia hampir diusir dari tempatnya itu,
jika Pak Lurah yang agak jauh dari rumah barunya itu tidak menenangkan warga.
Warga marah pada Amat bukan karena ia seorang residivis. Bukan juga seorang
penjahat kelas kakap. Bukan juga seorang pengedar narkoba. Apalagi seorang
germo. Amat hanya seorang pemuda pengangguran, pendiam dan kurang bergaul
dengan warga.
Namun kemarahan warga bukan karena semua itu. Warga marah karena Amat Selamat
memiliki seekor burung murai. Karena kicau burung yang sangat memekakkan
telinga itulah warga memusuhinya. Warga merasa terganggu. Burung itu berkicau
tidak kenal waktu.
Kicau burung murai itu pernah menaikkan amarah Bu Ijah, tetangga sebelah rumah
Amat. Masalahnya sebenarnya sepele. Waktu Bu Ijah baru saja meninabobokkan
bayinya yang baru 3 bulan lahir, Murai itu berkicau. Bayi Bu Ijah terkejut.
Bayi itu menangis. Bu Ijah kesal dan marah besar dibuatnya. Tanpa pikir
panjang, Bu Ijah langsung mendatangi rumah Amat. Ia marah-marah. Amat hanya
tersenyum. Masuk kuping kiri, keluar kuping kanan. Itulah prinsip Amat dalam
menghadapi rentetan caci maki yang keluar dari mulut perempuan yang terkenal
tukang ngerumpi di lingkungan itu. Amat paling-paling menangkis serangan
itu dengan kata maaf dan berjanji tidak akan mengulanginya lagi. Walaupun Amat
tahu bukan dia yang berbuat, tapi murainya. Akhirnya Bu Ijah pulang, walaupun
serangannya tidak ada yang mengena.
Lain lagi halnya dengan Bang Solah. Darah militernya hampir mendidih, lantaran
ia juga terganggu dengan kicau murai itu. Ban Solah yang tinggal di depan
rumah Amat mengamuk, karena pertempuran dengan istrinya pada malam purnama
terganggu karena kicau murai. Bang Solah tidak bisa konsentrasi menyusun
strategi perang. Ia keluar dan memaki Amat dan burungnya. Seperti biasa Amat
menangkis dengan kata maaf dan berjanji tidak akan mengulanginya lagi.
Hari-hari berlalu, daerah tempat tinggal Amat menjadi ricuh. Semua membicarakan
Amat. Semua marah. Semua protes. Apalagi setelah mendapat hasutan dari Bu Ijah,
sampai-sampai masalah flu burung pun diungkit-ungkit. Lantaran hasutan dan
rumpiannya itulah warga menjadi marah dengan Amat. Ustadz yang tinggal tidak
jauh dari rumah Amat pun sepertinya tidak menyukainya. Ustadz itu juga pernah
terganggu suara murai, saat ia mengaji di rumah. Tapi seperti biasa, Amat
menanggapi semua protes dengan jurus pamungkasnya.
Bulan-bulan pun berlalu, akhirnya Amat mendengar berita tentang perlombaan
kicau burung tingkat nasional. Amat mendaftarkan burungnya. Ia senang karena
ada orang yang mau membuat perlombaan itu.
Amat membawa murainya untuk diperiksa oleh panitia sebelum perlombaan. Murainya
sehat dan dinyatakan bisa ikut lomba. Ini bukan perlombaan kicau burung
sembarangan. Ini tingkat nasional. Rencananya Bapak Presiden yang membuka
acaranya.
Tibalah saat perlombaan. Presiden yang direncanakan membuka perlombaan hadir.
Acaranya sangat meriah. Dalam perlombaan itu, murai Amat mendapat 5 medali emas
dari 6 kategori perlombaan. Murai Amat juara umum. Ia mendapat penghargaan dari
Presiden. Selain penghargaan, tentunya ia juga mendapatkan uang hampir 3 milyar
dari semua kategori yang dimenangkannya.
Amat masuk koran. Semua koran baik lokal hingga koran nasional memberitakannya.
Wajahnya terpampang di halaman pertama. Wajah gembira saat salaman dengan
presiden waktu menyerahkan hadiah. Semua lapisan masyarakat menyorotinya. Kini
Amat terkenal. Hapir sama terkenalnya dengan artis yang selalu diberitakan di
media massa.
Tidak berbeda dengan warga di tempat tinggalnya. Warga yang dulu memusuhinya
kini menyanjungnya. Namanya dielu-elukan. Amat warga mereka. Paling tidak nama
daerah mereka jadi terkenal.
Amat kini orang terkenal. Tidak ada lagi warga yang memusuhinya. Ia orang kaya.
Dengan uang hadiah itu, Amat membangun rumah mewah di tanah kosong belakang
rumah kontrakannya yang sudah dibelinya. Amat juga membuat kandang khusus untuk
murainya. Tapi tetap saja kicau murai itu selalu melengking dan menggema di
daerahnya. Namun warga tidak marah lagi. Masuk kuping kiri keluar kuping kanan.
Itulah prinsip yang kini juga digunakan oleh warga.
Bermacam-macam perlombaan kicau burung selalu dimenangkan oleh Amat.
Kekayaannya semakin berlimpah. Banyak pengusaha-pengusaha yang mendatangi Amat
untuk kerjasama bisnis. Amat menolaknya. Amat lebih memilih masuk partai
politik setelah mendapat tawaran dari ketua umum partai tersebut. Mungkin
karena Amat orang terkenal dan kaya. Yang Amat tahu, dia hanya orang yang
mengecam pendidikan SMP. Ketua umum partai itupun menawarkan ijazah SMA pada
Amat asal ia mau bergabung dalam partai tersebut. Ketua umum partai itu juga
menawarkan jabatan penting dalam partai. Itulah yang membuat Amat tertarik
masuk dunia poliltik.
Satu tahun berlalu. Amat semakin kaya. Burung Murainya juga sudah memenangkan
perlombaan kicau burung tingkat dunia. Ia mendapat hadiah 5 juta dollar
Amerika. Dan Murainya tercatat dalam buku rekor dunia.
Karirnya dalam partai politik pun makin menanjak. Sehari setelah ia memenangkan
perlombaan tingkat dunia tersebut, ia diangkat sebagai pimpinan pusat.
Partainya pun semakin maju. Banyak masyarakat mendukung partai yang
dipimpinnya. Ia membangun sebuah istana mewah di kawasan perumahan elit ibu
kota. Rumah lama telah dijualnya. Rentetan mobil mewah juga bersusun, seolah
menghiasi istananya.
Amat juga sudah lupa dengan Bu Ijah, Bang Solah, Pak Ustadz dan warga lain
tempat dulu dia tinggal. Ia kini bergaul dengan orang-orang elit.
Amat kini lupa diri. Dia lupa asal muasalnya. Lebih-lebih ia lupa pada
murainya, yang telah membuat dia bisa hidup tenang. Amat sudah punya murai besi
yang lebih besar dari murainya dulu. Ia benar-benar terlena dengan semua harta
yang dimilikinya.
Tahun-tahun berlalu. Amat semakin lupa diri. Tidak ada lagi orang yang
memakinya. Semua mengelukannya. Terlintaslah dalam benaknya untuk menguasai
negara. Ia ingin jadi Presiden. Dalam pemilu nanti, ia akan mencalonkan
diri. Semua pimpinan partai diseluruh Provinsi dikumpulkan. Ia mengadakan rapat.
Ia mengutarakan maksudnya. Semua anggota partai mendukungnya. Para anggota
yakin dia akan terpilih karena uangnya banyak.
Semua anggota mempersiapkan strategi. Yang jelas, Amat harus menjadi presiden,
bagaimanapun caranya.
Politik uang pun digulirkan. Setiap warga diberi seratus ribu rupiah asal
memilih Amat. Semua harta benda Amat dikerahkan untuk mencapai maksudnya. Ia
yakin, walaupun hartanya habis terkuras, namun ketika terpilih semua bisa
kembali seperti sedia kala. Bahkan lebih. Poster Amat juga dicetak berjuta-juta
eksemplar. Di setiap tempat harus ada gambar wajahnya. Dia tidak mau ada tempat
di daerah ini yang tidak terpajang poster dirinya.
Hari penentuan pun tiba. Negara melaksanakan pesta demokrasi. Warga
berbondong-bondong mendatangi tempat pemungutan suara. Ada tiga calon lain
selain Amat yang ikut dalam pemilihan. Namun Amat yakin ia akan memenangkan
pemilihan. Semua uangnya telah habis untuk menyusun strategi agar bisa menang.
Ia juga yakin, karena tiga calon yang lain tidak begitu terkenal seperti
dirinya. Juga tidak memiliki uang sebanyak uangnya. Keyakinan Amat bulat.
Sudah tergambar dalam benaknya apa-apa yang akan dikerjakannya ketika ia
terpilih nanti. Yang paling utama mengembalikan harta miliknya yang telah habis
untuk kampanye. Amat juga akan mengangkat orang-orang dari partainya untuk
membantunya dalam menjalankan pemerintahan. Ia juga akan keliling dunia, dengan
alasan tugas negara. Tapi tidak seperti ketika dia menang lomba kicau tingkat
nasional, Amat telah lupa pada murainya. Tidak terlintas dalam benaknya
sedikitpun untuk membuatkan sebuah kandang baru. Amat telah lupa pada burung
murai yang telah membesarkan namanya. Hanya kandang lama yang masih mengurung
murai tersebut, dan diletakkan di belakang rumahnya.
Amat Selamat menangis. Ia kalah. Ia menempati posisi ketiga dalam perolehan suara.
Ia tidak percaya. Ia sangat kecewa. Amat miskin. Amat kembali melarat karena
semua hartanya telah habis. Angan-angannya juga sirna. Tidak ada lagi kunjungan
negara. Ia benar-benar jatuh. Amat juga diputihkan dalam partai. Posisinya
telah digantikan, rumah dan mobilnya juga disita. Kini ia kembali ke jalanan.
Tidak ada orang yang kenal lagi padanya. Popularitasnya hilang tanpa sisa.
Hanya burung murai yang terus berkicau. Itulah harta satu-satunya yang dibawa.
Perlombaan kicau burung juga tidak ada lagi. Pemerintah yang baru telah
memusnahkan semua unggas termasuk burung karena maraknya virus.
Amat lapar. Tiga hari dia belum makan. Murainya juga belum makan. Ia menderita.
Putus asa. Seperti tidak ada lagi keinginan untuk hidup. Diambilnya pisau.
Dipandanginya burung Murainya.
“Selamat tinggal, Murai.”
Bles!
Medan 2007
kumpulan cerpen
Jingga di tepi Subuh
- Cerpen Tengku Marni Adriyah
Pulanglah kekasih. Tapi ingat, jangan hanya ketika bintang bertamu. Pulanglah sekali-sekali
Subuh baru sampai. Matahari saja masih ketinggalan di ujung barat. Perempuan itu bergegas membuka pintu. Azan memanggilnya di beranda. Ia berharap, selesai salat, Ben sudah sampai.
Selesai tilawah, ia buka semua jendela. Ben belum juga tiba, ia mungkin agak telat. Diseduhnya kopi, manis agak pahit. Ia tersenyum. Seperti kisah hidupku. Masih ada waktu, Ben pasti senang. Kalau ia pulang, di atas meja makan ada segelas kopi dan sepiring nasi goreng dibungkus telur dadar. Nasi goreng demam, julukan Ben. Lalu ia pasti akan berkata, kau adalah sosok yang diidamkan semua lelaki.
lebih lengkapnya lihat di : http://pipilangit.blogspot.com/
Langganan:
Komentar (Atom)