Halaman

Tampilkan postingan dengan label Puisi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Puisi. Tampilkan semua postingan

Minggu, 10 Februari 2013

puisi ilham pribadi-harian analisa

APA KABAR PAGI

Apa kabar pagi
yang hadir menghancurkan mimpi
apakah mentarimu masih tersenyum
memandang brikade burung mengitari
cakrawala
seperti hendak menyampaikan berita
tentang mimpi buruknya tadi malam
apa kabar pagi
akankah esokmu terampas
oleh mendung yang membawa hujan
mengguyur duka
pada bumi yang terluka
Medan, Juni 2003
 
DOAKU UNTUKMU
Tembang kenangan di malam itu
membuatku makin terkenang dirimu ibu
kerinduan yang terpatri dalam diriku
membuat lubang kerinduan semakin dalam
untukmu
apakah kau tenang di sana
bermain dan bercanda dengan malaikat
menyanyikan lagu pujian untuk-Nya
sementara aku menyesali diriku
yang tak sempat melepas kepergianmu ibu
hanya doa yang dapat kukirim untukmu
semoga kau tenang di sana
Medan, Juli 2004

K A U
Yang kemarin berselimut
dalam peti jenazah
ajarkan padaku
cara mati yang benar
Medan, Juni 2003

DINNER
Kau sambut aku dengan sepotong roti
dan secangkir kopi susu
sedang kemarin daging dan darahku
kau jadikan makanan penutup
Medan, Juni 2003

sumber : http://www.analisadaily.com/mobile/read/?id=11680

puisi Ilham Pribadi-Harian Analisa


Angin menyeretku pada rindu
mengiring setiap anganku yang lahir
pada jasadku yang terpaku
menatap laut yang memantulkan wajahmu
selaksa mimpi tapi nyata
pada setiap gelombang nafas
menghempaskan bahtera
terdampar pada pantai rindu
angin semakin keras menyeret anganku
ketika ku coba menelusuri pantai
mencari mutiara rindu darimu
yang kau kirim melalui bintang
Medan, Agustus 2003
AKU HANYA BERSANDIWARA

Untuk para durjana
kuajak kau bernyanyi
kuajak kau menari
bersama iblis betina
berpesta ria
aku terus menghiburmu
hingga kau lelah
hingga kau berkeringat
memang aku penjilat
karena terus menghiburmu
hingga kau lelah hingga kau berkeringat
Medan, 2003

HARAPAN

Akankah ku kais tanah
tuk temukan sebutir harapan
sementara cacing-cacing kelaparan

akankah ku peras kayu
tuk temukan sebutir air
sementara akar-akar kekeringan

apakah semua harapan telah terkubur
sementara bumi telah membatu kini
Medan, oktober 2004

TAPAK LANGIT

Jalanku menapaki langit
darah kaki membasahi awan
terus mendaki setiap gumpalannya
jatuh tersungkur, namun
aku masih bisa merangkak
dimanakah-Dia?
Medan, Oktober 2003

sumber : http://www.analisadaily.com/news/read/2011/10/05/15848/berlayar_di_laut_rindu/#.URcWWaB8EiE

Puisi


Puisi Tengku Marni Adriyah

Pesan di Batu Nisan 3

Bah…
Dimana aku harus sembunyikan tangis ini
Didadamu, yang tak lagi kekar
Karena angin, hujan, panas, debu
Telah mengikis habis keperkasaanmu