Cerpen karya Ilham Pribadi
MURAI
Belum genap satu minggu Amat Selamat
mendiami rumah kontrakan barunya yang berukuran 4×5 meter persegi itu, ia sudah
dimusuhi tetangganya. Warga geram padanya. Ia hampir diusir dari tempatnya itu,
jika Pak Lurah yang agak jauh dari rumah barunya itu tidak menenangkan warga.
Warga marah pada Amat bukan karena ia seorang residivis. Bukan juga seorang
penjahat kelas kakap. Bukan juga seorang pengedar narkoba. Apalagi seorang
germo. Amat hanya seorang pemuda pengangguran, pendiam dan kurang bergaul
dengan warga.
Namun kemarahan warga bukan karena semua itu. Warga marah karena Amat Selamat
memiliki seekor burung murai. Karena kicau burung yang sangat memekakkan
telinga itulah warga memusuhinya. Warga merasa terganggu. Burung itu berkicau
tidak kenal waktu.
Kicau burung murai itu pernah menaikkan amarah Bu Ijah, tetangga sebelah rumah
Amat. Masalahnya sebenarnya sepele. Waktu Bu Ijah baru saja meninabobokkan
bayinya yang baru 3 bulan lahir, Murai itu berkicau. Bayi Bu Ijah terkejut.
Bayi itu menangis. Bu Ijah kesal dan marah besar dibuatnya. Tanpa pikir
panjang, Bu Ijah langsung mendatangi rumah Amat. Ia marah-marah. Amat hanya
tersenyum. Masuk kuping kiri, keluar kuping kanan. Itulah prinsip Amat dalam
menghadapi rentetan caci maki yang keluar dari mulut perempuan yang terkenal
tukang ngerumpi di lingkungan itu. Amat paling-paling menangkis serangan
itu dengan kata maaf dan berjanji tidak akan mengulanginya lagi. Walaupun Amat
tahu bukan dia yang berbuat, tapi murainya. Akhirnya Bu Ijah pulang, walaupun
serangannya tidak ada yang mengena.
Lain lagi halnya dengan Bang Solah. Darah militernya hampir mendidih, lantaran
ia juga terganggu dengan kicau murai itu. Ban Solah yang tinggal di depan
rumah Amat mengamuk, karena pertempuran dengan istrinya pada malam purnama
terganggu karena kicau murai. Bang Solah tidak bisa konsentrasi menyusun
strategi perang. Ia keluar dan memaki Amat dan burungnya. Seperti biasa Amat
menangkis dengan kata maaf dan berjanji tidak akan mengulanginya lagi.
Hari-hari berlalu, daerah tempat tinggal Amat menjadi ricuh. Semua membicarakan
Amat. Semua marah. Semua protes. Apalagi setelah mendapat hasutan dari Bu Ijah,
sampai-sampai masalah flu burung pun diungkit-ungkit. Lantaran hasutan dan
rumpiannya itulah warga menjadi marah dengan Amat. Ustadz yang tinggal tidak
jauh dari rumah Amat pun sepertinya tidak menyukainya. Ustadz itu juga pernah
terganggu suara murai, saat ia mengaji di rumah. Tapi seperti biasa, Amat
menanggapi semua protes dengan jurus pamungkasnya.
Bulan-bulan pun berlalu, akhirnya Amat mendengar berita tentang perlombaan
kicau burung tingkat nasional. Amat mendaftarkan burungnya. Ia senang karena
ada orang yang mau membuat perlombaan itu.
Amat membawa murainya untuk diperiksa oleh panitia sebelum perlombaan. Murainya
sehat dan dinyatakan bisa ikut lomba. Ini bukan perlombaan kicau burung
sembarangan. Ini tingkat nasional. Rencananya Bapak Presiden yang membuka
acaranya.
Tibalah saat perlombaan. Presiden yang direncanakan membuka perlombaan hadir.
Acaranya sangat meriah. Dalam perlombaan itu, murai Amat mendapat 5 medali emas
dari 6 kategori perlombaan. Murai Amat juara umum. Ia mendapat penghargaan dari
Presiden. Selain penghargaan, tentunya ia juga mendapatkan uang hampir 3 milyar
dari semua kategori yang dimenangkannya.
Amat masuk koran. Semua koran baik lokal hingga koran nasional memberitakannya.
Wajahnya terpampang di halaman pertama. Wajah gembira saat salaman dengan
presiden waktu menyerahkan hadiah. Semua lapisan masyarakat menyorotinya. Kini
Amat terkenal. Hapir sama terkenalnya dengan artis yang selalu diberitakan di
media massa.
Tidak berbeda dengan warga di tempat tinggalnya. Warga yang dulu memusuhinya
kini menyanjungnya. Namanya dielu-elukan. Amat warga mereka. Paling tidak nama
daerah mereka jadi terkenal.
Amat kini orang terkenal. Tidak ada lagi warga yang memusuhinya. Ia orang kaya.
Dengan uang hadiah itu, Amat membangun rumah mewah di tanah kosong belakang
rumah kontrakannya yang sudah dibelinya. Amat juga membuat kandang khusus untuk
murainya. Tapi tetap saja kicau murai itu selalu melengking dan menggema di
daerahnya. Namun warga tidak marah lagi. Masuk kuping kiri keluar kuping kanan.
Itulah prinsip yang kini juga digunakan oleh warga.
Bermacam-macam perlombaan kicau burung selalu dimenangkan oleh Amat.
Kekayaannya semakin berlimpah. Banyak pengusaha-pengusaha yang mendatangi Amat
untuk kerjasama bisnis. Amat menolaknya. Amat lebih memilih masuk partai
politik setelah mendapat tawaran dari ketua umum partai tersebut. Mungkin
karena Amat orang terkenal dan kaya. Yang Amat tahu, dia hanya orang yang
mengecam pendidikan SMP. Ketua umum partai itupun menawarkan ijazah SMA pada
Amat asal ia mau bergabung dalam partai tersebut. Ketua umum partai itu juga
menawarkan jabatan penting dalam partai. Itulah yang membuat Amat tertarik
masuk dunia poliltik.
Satu tahun berlalu. Amat semakin kaya. Burung Murainya juga sudah memenangkan
perlombaan kicau burung tingkat dunia. Ia mendapat hadiah 5 juta dollar
Amerika. Dan Murainya tercatat dalam buku rekor dunia.
Karirnya dalam partai politik pun makin menanjak. Sehari setelah ia memenangkan
perlombaan tingkat dunia tersebut, ia diangkat sebagai pimpinan pusat.
Partainya pun semakin maju. Banyak masyarakat mendukung partai yang
dipimpinnya. Ia membangun sebuah istana mewah di kawasan perumahan elit ibu
kota. Rumah lama telah dijualnya. Rentetan mobil mewah juga bersusun, seolah
menghiasi istananya.
Amat juga sudah lupa dengan Bu Ijah, Bang Solah, Pak Ustadz dan warga lain
tempat dulu dia tinggal. Ia kini bergaul dengan orang-orang elit.
Amat kini lupa diri. Dia lupa asal muasalnya. Lebih-lebih ia lupa pada
murainya, yang telah membuat dia bisa hidup tenang. Amat sudah punya murai besi
yang lebih besar dari murainya dulu. Ia benar-benar terlena dengan semua harta
yang dimilikinya.
Tahun-tahun berlalu. Amat semakin lupa diri. Tidak ada lagi orang yang
memakinya. Semua mengelukannya. Terlintaslah dalam benaknya untuk menguasai
negara. Ia ingin jadi Presiden. Dalam pemilu nanti, ia akan mencalonkan
diri. Semua pimpinan partai diseluruh Provinsi dikumpulkan. Ia mengadakan rapat.
Ia mengutarakan maksudnya. Semua anggota partai mendukungnya. Para anggota
yakin dia akan terpilih karena uangnya banyak.
Semua anggota mempersiapkan strategi. Yang jelas, Amat harus menjadi presiden,
bagaimanapun caranya.
Politik uang pun digulirkan. Setiap warga diberi seratus ribu rupiah asal
memilih Amat. Semua harta benda Amat dikerahkan untuk mencapai maksudnya. Ia
yakin, walaupun hartanya habis terkuras, namun ketika terpilih semua bisa
kembali seperti sedia kala. Bahkan lebih. Poster Amat juga dicetak berjuta-juta
eksemplar. Di setiap tempat harus ada gambar wajahnya. Dia tidak mau ada tempat
di daerah ini yang tidak terpajang poster dirinya.
Hari penentuan pun tiba. Negara melaksanakan pesta demokrasi. Warga
berbondong-bondong mendatangi tempat pemungutan suara. Ada tiga calon lain
selain Amat yang ikut dalam pemilihan. Namun Amat yakin ia akan memenangkan
pemilihan. Semua uangnya telah habis untuk menyusun strategi agar bisa menang.
Ia juga yakin, karena tiga calon yang lain tidak begitu terkenal seperti
dirinya. Juga tidak memiliki uang sebanyak uangnya. Keyakinan Amat bulat.
Sudah tergambar dalam benaknya apa-apa yang akan dikerjakannya ketika ia
terpilih nanti. Yang paling utama mengembalikan harta miliknya yang telah habis
untuk kampanye. Amat juga akan mengangkat orang-orang dari partainya untuk
membantunya dalam menjalankan pemerintahan. Ia juga akan keliling dunia, dengan
alasan tugas negara. Tapi tidak seperti ketika dia menang lomba kicau tingkat
nasional, Amat telah lupa pada murainya. Tidak terlintas dalam benaknya
sedikitpun untuk membuatkan sebuah kandang baru. Amat telah lupa pada burung
murai yang telah membesarkan namanya. Hanya kandang lama yang masih mengurung
murai tersebut, dan diletakkan di belakang rumahnya.
Amat Selamat menangis. Ia kalah. Ia menempati posisi ketiga dalam perolehan suara.
Ia tidak percaya. Ia sangat kecewa. Amat miskin. Amat kembali melarat karena
semua hartanya telah habis. Angan-angannya juga sirna. Tidak ada lagi kunjungan
negara. Ia benar-benar jatuh. Amat juga diputihkan dalam partai. Posisinya
telah digantikan, rumah dan mobilnya juga disita. Kini ia kembali ke jalanan.
Tidak ada orang yang kenal lagi padanya. Popularitasnya hilang tanpa sisa.
Hanya burung murai yang terus berkicau. Itulah harta satu-satunya yang dibawa.
Perlombaan kicau burung juga tidak ada lagi. Pemerintah yang baru telah
memusnahkan semua unggas termasuk burung karena maraknya virus.
Amat lapar. Tiga hari dia belum makan. Murainya juga belum makan. Ia menderita.
Putus asa. Seperti tidak ada lagi keinginan untuk hidup. Diambilnya pisau.
Dipandanginya burung Murainya.
“Selamat tinggal, Murai.”
Bles!
Medan 2007
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
komen aja dah, asal sopan