Halaman

Sabtu, 09 Februari 2013

kumpulan cerpen


Cerpen karya Ilham Pribadi
MURAI

Belum genap satu minggu Amat Selamat mendiami rumah kontrakan barunya yang berukuran 4×5 meter persegi itu, ia sudah dimusuhi tetangganya. Warga geram padanya. Ia hampir diusir dari tempatnya itu, jika Pak Lurah yang agak jauh dari rumah barunya itu tidak menenangkan warga.
            Warga marah pada Amat bukan karena ia seorang residivis. Bukan juga seorang penjahat kelas kakap. Bukan juga seorang pengedar narkoba. Apalagi seorang germo. Amat hanya seorang pemuda pengangguran, pendiam dan kurang  bergaul dengan warga.
            Namun kemarahan warga bukan karena semua itu. Warga marah karena Amat Selamat memiliki seekor burung murai. Karena kicau burung yang sangat memekakkan telinga itulah warga memusuhinya. Warga merasa terganggu. Burung itu berkicau tidak kenal waktu.
            Kicau burung murai itu pernah menaikkan amarah Bu Ijah, tetangga sebelah rumah Amat. Masalahnya sebenarnya sepele. Waktu Bu Ijah baru saja meninabobokkan bayinya yang baru 3 bulan lahir, Murai itu berkicau. Bayi Bu Ijah terkejut. Bayi itu menangis. Bu Ijah kesal dan marah besar dibuatnya. Tanpa pikir panjang, Bu Ijah langsung mendatangi rumah Amat. Ia marah-marah. Amat hanya tersenyum. Masuk kuping kiri, keluar kuping kanan. Itulah prinsip Amat dalam menghadapi rentetan caci maki yang keluar dari mulut perempuan yang terkenal tukang ngerumpi di lingkungan itu. Amat paling-paling menangkis serangan itu dengan kata maaf dan berjanji tidak akan mengulanginya lagi. Walaupun Amat tahu bukan dia yang berbuat, tapi murainya. Akhirnya Bu Ijah pulang, walaupun serangannya tidak ada yang mengena.
            Lain lagi halnya dengan Bang Solah. Darah militernya hampir mendidih, lantaran ia juga terganggu dengan kicau murai itu. Ban Solah yang tinggal di depan rumah Amat mengamuk, karena pertempuran dengan istrinya pada malam purnama terganggu karena kicau murai. Bang Solah tidak bisa konsentrasi menyusun strategi perang. Ia keluar dan memaki Amat dan burungnya. Seperti biasa Amat menangkis dengan kata maaf dan berjanji tidak akan mengulanginya lagi.
            Hari-hari berlalu, daerah tempat tinggal Amat menjadi ricuh. Semua membicarakan Amat. Semua marah. Semua protes. Apalagi setelah mendapat hasutan dari Bu Ijah, sampai-sampai masalah flu burung pun diungkit-ungkit. Lantaran hasutan dan rumpiannya itulah warga menjadi marah dengan Amat. Ustadz yang tinggal tidak jauh dari rumah Amat pun sepertinya tidak menyukainya. Ustadz itu juga pernah terganggu suara murai, saat ia mengaji di rumah. Tapi seperti biasa, Amat menanggapi semua protes dengan jurus pamungkasnya.
            Bulan-bulan pun berlalu, akhirnya Amat mendengar berita tentang perlombaan kicau burung tingkat nasional. Amat mendaftarkan burungnya. Ia senang karena ada orang yang mau membuat perlombaan itu.
            Amat membawa murainya untuk diperiksa oleh panitia sebelum perlombaan. Murainya sehat dan dinyatakan bisa ikut lomba. Ini  bukan perlombaan kicau burung sembarangan. Ini tingkat nasional. Rencananya Bapak Presiden yang membuka acaranya.
            Tibalah saat perlombaan. Presiden yang direncanakan membuka perlombaan hadir. Acaranya sangat meriah. Dalam perlombaan itu, murai Amat mendapat 5 medali emas dari 6 kategori perlombaan. Murai Amat juara umum. Ia mendapat penghargaan dari Presiden. Selain penghargaan, tentunya ia juga mendapatkan uang hampir 3 milyar dari semua kategori yang dimenangkannya.
            Amat masuk koran. Semua koran baik lokal hingga koran nasional memberitakannya. Wajahnya terpampang di halaman pertama. Wajah gembira saat salaman dengan presiden waktu menyerahkan hadiah. Semua lapisan masyarakat menyorotinya. Kini Amat terkenal. Hapir sama terkenalnya dengan artis yang selalu diberitakan di media massa.
            Tidak berbeda dengan warga di tempat tinggalnya. Warga yang dulu memusuhinya kini menyanjungnya. Namanya dielu-elukan. Amat warga mereka. Paling tidak nama daerah mereka jadi terkenal.
            Amat kini orang terkenal. Tidak ada lagi warga yang memusuhinya. Ia orang kaya. Dengan uang hadiah itu, Amat membangun rumah mewah di tanah kosong belakang rumah kontrakannya yang sudah dibelinya. Amat juga membuat kandang khusus untuk murainya. Tapi tetap saja kicau murai itu selalu melengking dan menggema di daerahnya. Namun warga tidak marah lagi. Masuk kuping kiri keluar kuping kanan. Itulah prinsip yang kini juga digunakan oleh warga.
            Bermacam-macam perlombaan kicau burung selalu dimenangkan oleh Amat. Kekayaannya semakin berlimpah. Banyak pengusaha-pengusaha yang mendatangi Amat untuk kerjasama bisnis. Amat menolaknya. Amat lebih memilih masuk partai politik setelah mendapat tawaran dari ketua umum partai tersebut. Mungkin karena Amat orang terkenal dan kaya. Yang Amat tahu, dia hanya orang yang mengecam pendidikan SMP. Ketua umum partai itupun menawarkan ijazah SMA pada Amat asal ia mau bergabung dalam partai tersebut. Ketua umum partai itu juga menawarkan jabatan penting dalam partai. Itulah yang membuat Amat tertarik masuk dunia poliltik.
            Satu tahun berlalu. Amat semakin kaya. Burung Murainya juga sudah memenangkan perlombaan kicau burung tingkat dunia. Ia mendapat hadiah 5 juta dollar Amerika. Dan Murainya tercatat dalam buku rekor dunia.
            Karirnya dalam partai politik pun makin menanjak. Sehari setelah ia memenangkan perlombaan tingkat dunia tersebut, ia diangkat sebagai pimpinan pusat. Partainya pun semakin maju. Banyak masyarakat mendukung partai yang dipimpinnya. Ia membangun sebuah istana mewah di kawasan perumahan elit ibu kota. Rumah lama telah dijualnya. Rentetan mobil mewah juga bersusun, seolah menghiasi istananya.
            Amat juga sudah lupa dengan Bu Ijah, Bang Solah, Pak Ustadz dan warga lain tempat dulu dia tinggal. Ia kini bergaul dengan orang-orang elit.
            Amat kini lupa diri. Dia lupa asal muasalnya. Lebih-lebih ia lupa pada murainya, yang telah membuat dia bisa hidup tenang. Amat sudah punya murai besi yang lebih besar dari murainya dulu. Ia benar-benar terlena dengan semua harta yang dimilikinya.
            Tahun-tahun berlalu. Amat semakin lupa diri. Tidak ada lagi orang yang memakinya. Semua mengelukannya. Terlintaslah dalam benaknya untuk menguasai negara. Ia ingin jadi  Presiden. Dalam pemilu nanti, ia akan mencalonkan diri. Semua pimpinan partai diseluruh Provinsi dikumpulkan. Ia mengadakan rapat. Ia mengutarakan maksudnya. Semua anggota partai mendukungnya. Para anggota yakin dia akan terpilih karena uangnya banyak.
            Semua anggota mempersiapkan strategi. Yang jelas, Amat harus menjadi presiden, bagaimanapun caranya.
            Politik uang pun digulirkan. Setiap warga diberi seratus ribu rupiah asal memilih Amat. Semua harta benda Amat dikerahkan untuk mencapai maksudnya. Ia yakin, walaupun hartanya habis terkuras, namun ketika terpilih semua bisa kembali seperti sedia kala. Bahkan lebih. Poster Amat juga dicetak berjuta-juta eksemplar. Di setiap tempat harus ada gambar wajahnya. Dia tidak mau ada tempat di daerah ini yang tidak terpajang poster dirinya.
            Hari penentuan pun tiba. Negara melaksanakan pesta demokrasi. Warga berbondong-bondong mendatangi tempat pemungutan suara. Ada tiga calon lain selain Amat yang ikut dalam pemilihan. Namun Amat yakin ia akan memenangkan pemilihan. Semua uangnya telah habis untuk menyusun strategi agar bisa menang. Ia juga yakin, karena tiga calon yang lain tidak begitu terkenal seperti dirinya. Juga tidak memiliki uang sebanyak uangnya. Keyakinan Amat bulat.
            Sudah tergambar dalam benaknya apa-apa yang akan dikerjakannya ketika ia terpilih nanti. Yang paling utama mengembalikan harta miliknya yang telah habis untuk kampanye. Amat juga akan mengangkat orang-orang dari partainya untuk membantunya dalam menjalankan pemerintahan. Ia juga akan keliling dunia, dengan alasan tugas negara. Tapi tidak seperti ketika dia menang lomba kicau tingkat nasional, Amat telah lupa pada murainya. Tidak terlintas dalam benaknya sedikitpun untuk membuatkan sebuah kandang baru. Amat telah lupa pada burung murai yang telah membesarkan namanya. Hanya kandang lama yang masih mengurung murai tersebut, dan diletakkan di belakang rumahnya.
            Amat Selamat menangis. Ia kalah. Ia menempati posisi ketiga dalam perolehan suara. Ia tidak percaya. Ia sangat kecewa. Amat miskin. Amat kembali melarat karena semua hartanya telah habis. Angan-angannya juga sirna. Tidak ada lagi kunjungan negara. Ia benar-benar jatuh. Amat juga diputihkan dalam partai. Posisinya telah digantikan, rumah dan mobilnya juga disita. Kini ia kembali ke jalanan. Tidak ada orang yang kenal lagi padanya. Popularitasnya hilang tanpa sisa.
            Hanya burung murai yang terus berkicau. Itulah harta satu-satunya yang dibawa. Perlombaan kicau burung juga tidak ada lagi. Pemerintah yang baru telah memusnahkan semua unggas termasuk burung karena maraknya virus.
            Amat lapar. Tiga hari dia belum makan. Murainya juga belum makan. Ia menderita. Putus asa. Seperti tidak ada lagi keinginan untuk hidup. Diambilnya pisau. Dipandanginya burung Murainya.
            “Selamat tinggal, Murai.”
            Bles!
                                                                        Medan 2007




Tidak ada komentar:

Posting Komentar

komen aja dah, asal sopan